Di era sepak bola modern, posisi fullback itu udah nggak cuma soal bertahan. Lo harus bisa ngatur tempo, bantu build-up, bahkan kadang jadi gelandang dadakan. Nah, nama Noussair Mazraoui makin sering disebut karena dia punya semua itu dalam satu paket. Skill? Ada. Visi? Jelas. Mobilitas? Jangan ditanya.
Pemain kelahiran Belanda ini emang bukan pemain yang penuh sorotan kayak striker atau playmaker, tapi begitu lo perhatiin permainannya, lo bakal ngerti kenapa klub-klub besar kepincut.

Awal Karier: Dari Belanda ke Dunia
Mazraoui lahir di Leiderdorp, Belanda, dan besar di lingkungan imigran Maroko. Dari kecil, dia udah nempel sama bola. Dia gabung akademi Ajax sejak umur belasan, dan dari situ mental “total football” mulai nempel di DNA-nya. Bukan cuma ngerti cara bertahan, dia juga tahu cara ikut bangun serangan.
Debut di tim utama Ajax datang tahun 2018. Dan dari situ, performanya langsung bikin pelatih dan fans bilang, “Oke, ini anak serius.” Dia nggak cuma rajin naik-turun di sisi kanan lapangan, tapi juga punya decision-making yang jarang dimiliki fullback muda.
Ajax: Sekolah Taktik yang Mengubah Segalanya
Di Ajax, Mazraoui dilatih buat main sebagai inverted fullback—alias fullback yang suka masuk ke tengah kayak gelandang. Ini bikin dia jadi pemain yang multifungsi, bisa ngontrol tempo, ngasih umpan-umpan pendek, sampai nyoba long pass buat buka ruang.
Di bawah Erik ten Hag, Mazraoui berkembang jadi pemain yang nggak cuma andal secara fisik, tapi juga pinter secara taktik. Dia ngerti kapan harus overlap, kapan harus tahan posisi, dan gimana cara ngejaga jarak sama winger biar tetap kompak.
Dan jangan lupa, dia juga punya finishing yang lumayan buat ukuran bek. Beberapa gol penting Ajax di Liga Champions? Mazraoui yang cetak.
Bayern Munich: Tantangan Baru di Bundesliga
Tahun 2022, Mazraoui resmi hijrah ke Bayern Munich. Kontrak gratisan alias free transfer, tapi kualitasnya? Bukan kaleng-kaleng. Bayern tahu banget, mereka dapet pemain yang bisa langsung masuk sistem Julian Nagelsmann (saat itu), yang suka main dengan bek sayap fleksibel.
Masalahnya, musim pertamanya di Bayern nggak selalu mulus. Cedera datang, plus kompetisi internal yang ketat bikin dia harus ekstra kerja keras buat dapat menit bermain. Tapi gaya main Mazraoui yang konsisten dan profesional bikin pelatih tetap kasih kepercayaan.
Yang menarik, dia nggak cuma main di posisi RB (right-back), tapi juga beberapa kali dipasang di kiri dan bahkan jadi gelandang bertahan. Gaya main serbabisa ini bikin dia jadi senjata rahasia Bayern di pertandingan-pertandingan penting.
Gaya Main: Smart, Cepat, dan Nggak Egois
Mazraoui bukan tipe pemain yang cari spotlight. Tapi dia tahu cara bikin impact tanpa harus selalu jadi sorotan. Dia punya ketenangan yang luar biasa pas bawa bola. Umpannya akurat, dribble-nya bersih, dan dia jarang bikin keputusan konyol.
Defensif? Solid. Offensif? Punya visi dan kecepatan. Tapi yang bikin dia unik adalah kemampuannya nyesuaiin diri sama sistem apa pun. Mau main high press? Bisa. Mau main sabar dan tunggu momen? Aman. Mau bantu build-up dari belakang? Gampang.
Dia juga punya stamina badak. Lo bakal lihat dia sprint dari garis pertahanan sampai ke kotak penalti lawan, lalu balik lagi tanpa kelihatan ngos-ngosan.
Timnas Maroko: Pride of North Africa
Meski lahir dan besar di Belanda, Mazraoui pilih main untuk Maroko. Keputusan ini sempat bikin heboh, tapi juga dapet banyak respect. Dia bilang, main untuk tanah leluhurnya itu soal hati dan identitas. Dan ternyata, pilihannya terbukti tepat.
Di Piala Dunia 2022 di Qatar, Mazraoui jadi salah satu pilar penting tim Maroko yang sukses bikin sejarah: jadi tim Afrika pertama yang tembus semifinal. Sebagai fullback, dia kerja keras buat nutup serangan lawan sekaligus bantu serangan balik cepat.
Satu hal yang mencolok: chemistry dia sama rekan setim kayak Hakimi dan Amrabat. Mereka main bukan cuma pakai kaki, tapi juga pakai insting dan kebanggaan nasional.
Off The Pitch: Lowkey Tapi Berprinsip
Mazraoui bukan pemain yang suka tampil di media atau pamer gaya hidup mewah. Tapi dia punya prinsip kuat. Di luar lapangan, dia sering ngomongin soal identitas, agama, dan pentingnya tetap humble meskipun udah terkenal.
Dia juga cukup vokal di isu-isu sosial, bahkan sempat jadi sorotan karena pernyataannya soal beberapa isu politik. Tapi buat dia, jadi atlet bukan cuma soal menang atau kalah, tapi juga soal kasih contoh dan suara untuk hal yang dia percaya.
Masa Depan: Fullback Masa Depan yang Serbaguna
Dengan usia yang masih 26-an, Mazraoui belum mencapai puncaknya. Selama dia bisa jaga kondisi dan terus belajar, dia punya potensi jadi salah satu fullback paling komplet di Eropa.
Bayern punya sejarah panjang soal ngembangin pemain jadi legenda. Kalau Mazraoui terus konsisten, bukan mustahil dia bisa jadi salah satu ikon baru di Allianz Arena.
Apalagi, di dunia sepak bola sekarang yang serba cepat dan taktik berubah tiap musim, punya pemain fleksibel kayak Mazraoui itu priceless. Dia bisa jadi pemain kunci untuk klub mana pun—baik di Bundesliga maupun di level Eropa.